Malam Setoran Terakhir 30 Juz: Perjalanan yang Dulu Terasa Mustahil, Kini Menjadi Nyata

Malam Setoran Terakhir 30 Juz: Perjalanan yang Dulu Terasa Mustahil, Kini Menjadi Nyata
Palembang – Malam itu suasana Pondok Pesantren Al-Qur’an Jami’atul Qurro’ Palembang terasa berbeda. Di tengah keheningan yang dipenuhi lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, sebuah perjalanan panjang akhirnya sampai pada salah satu titik terindahnya.

Adalah M. Barikli Amhar, santri asal Jambi, putra dari Bapak Syamsul Bahri, S.Pd. dan Ibu Desi Fardilah, S.Keb., Ners., yang pada malam tersebut menyelesaikan setoran terakhir hafalan 30 juz Al-Qur’an. Sebuah pencapaian yang diraih setelah menempuh proses menghafal selama 2 tahun 10 bulan 11 hari di usia yang masih sangat muda, yakni 15 tahun.

Setoran terakhir tersebut disimak langsung oleh Ust. Ahmad Fuad Al Hafizh dengan penuh kekhidmatan. Setiap ayat yang terucap seakan menjadi saksi perjuangan panjang yang telah dilalui. Ada hari-hari yang penuh semangat, ada pula saat-saat ketika rasa lelah dan keraguan datang menghampiri. Namun malam itu membuktikan bahwa ketekunan mampu mengalahkan segala keterbatasan.

Tak sedikit yang terharu menyaksikan momen tersebut. Sebab di balik hafalan 30 juz yang kini tersimpan dalam dada seorang santri, terdapat ribuan jam murojaah, tetesan air mata saat mengulang hafalan, serta doa-doa yang terus dipanjatkan oleh kedua orang tua.

Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an Jami’atul Qurro’ Palembang, KH. Hendro Karnadi, S.Ag., M.M., menyampaikan bahwa khatam setoran bukanlah garis akhir dari perjalanan seorang penghafal Al-Qur’an.

“Yang paling penting setelah ini adalah terus mengulang hafalan agar menjadi mutqin. Jangan pernah berhenti bersama Al-Qur’an. Karena menjaga hafalan sering kali lebih berat daripada menghafalnya,” nasihat beliau.

Beliau juga mengingatkan para santri bahwa dalam kehidupan ini sering kali manusia merasa tidak mampu sebelum mencoba.

"Kadang apa yang kita rasa tidak bisa, ternyata bisa juga. Kadang yang kita anggap berat, ternyata mampu kita lalui ketika kita bersungguh-sungguh dan memohon pertolongan kepada Allah."

Kalimat sederhana itu seakan menjadi cermin perjalanan M. Barikli Amhar. Apa yang dahulu mungkin terlihat jauh dan sulit, kini berdiri nyata di hadapan mata.

Pada kesempatan tersebut, KH. Hendro Karnadi juga menyampaikan pesan yang menyentuh hati para wali santri yang hadir.

"Jika malam ini para orang tua diberikan pilihan antara mendapatkan sebuah mobil baru atau memiliki anak yang hafal 30 juz Al-Qur’an, maka saya yakin mereka akan memilih anak yang hafizh Al-Qur’an."

Sebab kendaraan terbaik tidak selalu yang berjalan di atas jalan raya. Ada kendaraan yang akan mengantarkan seseorang menuju kemuliaan dunia dan akhirat, yaitu Al-Qur’an yang hidup di dalam dada anak-anak mereka.

Malam setoran terakhir ini bukan hanya tentang selesainya hafalan 30 juz. Ini adalah kisah tentang kesabaran, perjuangan, doa orang tua, bimbingan para guru, dan pertolongan Allah yang tidak pernah terputus.

Semoga capaian ini menjadi awal perjalanan yang lebih besar, bukan sekadar menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadi penjaga, pengamal, dan penyebar cahaya Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Selamat kepada M. Barikli Amhar. Semoga Allah menjaga hafalannya, melimpahkan keberkahan kepada kedua orang tuanya, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat yang setia di dunia hingga akhirat. Aamiin.
Link berhasil disalin!