Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H: Bersyukur Menjadi Ahlul Qur'an, Menikmati Proses Menjadi Santri

Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H: Bersyukur Menjadi Ahlul Qur'an, Menikmati Proses Menjadi Santri
Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Pondok Pesantren Al-Qur'an Jami'atul Qurro' & Aishwa Nahla Palembang menggelar Tabligh Akbar yang menghadirkan ulama muda inspiratif, Lora Ismail Amin Kholili. Beliau merupakan keturunan Syaikhona Kholil Bangkalan, alumnus Pesantren Al-Anwar Sarang asuhan KH. Maimoen Zubair, serta Darul Musthafa Tarim Yaman asuhan Habib Umar bin Hafizh. Dakwah beliau dikenal dekat dengan bahasa anak muda tanpa kehilangan kedalaman makna dan hikmah.
Suasana majelis yang dipenuhi para santri, terasa hangat sejak awal. Dengan gaya penyampaian yang ringan namun menyentuh hati, diselipkan humor, Lora Ismail mengajak para santri untuk mensyukuri nikmat terbesar yang Allah berikan, yaitu nikmat Al-Qur'an.
"Di dunia ini banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Namun tidak ada nikmat yang lebih agung daripada nikmat Al-Qur'an," demikian pesan yang menggema dalam majelis tersebut.
Beliau mengingatkan bahwa tidak semua anak seusia para santri mendapatkan kesempatan untuk hidup bersama Al-Qur'an. Di saat sebagian besar anak muda sibuk mencari jati diri di berbagai arus kehidupan, para santri justru dipilih Allah untuk dekat dengan Kalam-Nya. Karena itu, menjadi ahlul Qur'an bukan sekadar status, melainkan karunia yang harus terus disyukuri dengan kesungguhan belajar, menghafal, dan mengamalkan isi Al-Qur'an.
Dalam tausiyahnya, Lora Ismail juga menyampaikan pesan yang sangat relevan bagi generasi muda saat ini “jangan terburu-buru ingin melihat hasil”. Menjadi santri adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Beliau mengingatkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari sesuatu yang instan, melainkan dari proses yang dijalani dengan istiqamah dan kesabaran. Pesan ini selaras dengan dakwah beliau yang sering mengajak generasi muda untuk menghargai proses dan tidak terjebak dalam budaya serba instan.
Salah satu kalimat yang paling mengundang senyum sekaligus renungan dari para hadirin adalah ketika beliau berkata,
"Banyak anak-anak sekarang cosplay menjadi tokoh-tokoh idolanya, menjadi wibu dan karakter yang mereka kagumi. Tapi kalian lebih hebat. Kalian sedang cosplay menjadi manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi, yaitu Nabi Muhammad ﷺ."
Kalimat sederhana itu disambut tawa dan tepuk tangan para jamaah. Namun di balik candaan tersebut tersimpan pesan mendalam kehidupan santri sesungguhnya adalah proses meneladani akhlak Rasulullah ﷺ. Cara berpakaian, cara berbicara, cara belajar, hingga cara menghormati guru dan orang tua merupakan bagian dari upaya mengikuti jejak manusia terbaik sepanjang zaman.
Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah ini menjadi momentum muhasabah sekaligus penyemangat bagi seluruh keluarga besar Pesantren Al-Qur'an Jami'atul Qurro' dan Aishwa Nahla. Bahwa tahun baru bukan hanya tentang bergantinya angka, tetapi tentang bertambahnya rasa syukur atas nikmat iman, nikmat Al-Qur'an, dan nikmat dipilih Allah untuk menapaki jalan para pencinta Al-Qur'an.
Semoga para santri senantiasa menikmati setiap proses perjuangannya, mencintai Al-Qur'an dengan sepenuh hati, dan kelak menjadi generasi yang membawa cahaya Al-Qur'an bagi umat, bangsa, dan agama.
"Jika banyak orang berlomba menjadi terkenal di dunia, maka berbahagialah kalian yang sedang berjuang menjadi terkenal di langit melalui Al-Qur'an."
Link berhasil disalin!